Mudik

Mudik, kegiatan yang amat sangat lekat dengan keseharian masyarakat Indonesia saat Iedul Fitri tiba. tak ada negara selain negara kita yang ‘meramaikan’ Iedul Fitri dengan eksodus penduduk ke daerah asalnya secara serentak. Negara dengan penduduk mayoritas muslim seperti Mesir, Malaysia, Pakistan, Irak, Iran dan Arab Saudi merayakan Iedul Fitri tidak sampai seperti Indonesia. selepas shalat Ied, semua kembali seperti biasa. Berbeda dengan perayaan Iedul Adha yang amat semarak dan dijalani dengan penuh semangat. Beda memang, tapi ga perlu kita bahas dan perdebatkan.

Mudik, diri ini, jasad ini dan jiwa ini pun akan melaksanakannya di waktu yang tepat. Sesuai dengan yang tertulis dalam suratan takdir, malaikat yang ditugaskan Allah akan datang dan mencabut ruh kita dari jasad. Pertanyaannya, setelah dunia seluruhnya kembali pada ketiadaan. Saat kita nanti dikumpulkan di padang mahsyar dan akhirnya ditimbang. Apakah amalan kita akan cukup untuk membawa kita ke tempat mudik yang nyaman dan penuh dengan kenikmatan?

Saat diri kita masih sibuk dengan aktivitas tanpa makna dan tujuan. Apakah ada keyakinan dalam diri ini bahwa kita akan selamat di akhir nanti?

Saat diri kita sering lupa akan perintah dan larangan-Nya. Apakah ada optimisme dalam diri ini mendapat Ridho-Nya?

Walaupun saat ini kita bergerak bersama dengan orang-orang di sekitar kita. Ingatlah, di akhir nanti setiap orang akan dihitung sendiri-sendiri. Tak berarti jika orang-orang disekitar kita aktif dalam kebermanfaatan sedangkan kita hanya menontonakan menjadikan diri kita ikut baik dan terkena pahalanya.

Amanah atau pekerjaan duniawi yang tak mampu kita laksanakan, akan bisa digantikan oleh orang lain. Namun ada pula ibadah atau amanah yang tak dapat digantikan atau dikerjakan oleh orang lain untuk kita. Shalat, Tilawah Qur’an, Qiyamul Lail tak bisa kita titipkan pada orang untuk dikerjakan. Pastikan setiap aktivitas dalam kehidupan kita, senantiasa ada dalam koridor keimanan dan jauh dari kemaksiatan. Seminimalnya kita mengajak orang untuk melakukan perintah-Nya, karena dengan itu pahala aktivitas shalih yang dirinya kerjakan akan juga sampai pada kita. terlebih jika ia mengajarkannya kembali kepada orang lain.

‎’Iman akan naik seiring dengan ketakwaan. Dan turun seiring dengan kemaksiatan’.

Kita tak tahu kapan kita akan kembali ke kampung halaman. kita hanya tahu bahwa di akhir nanti ada dua tempat kembali, Surga atau Neraka. Tinggal kita memilih, akan mudik kemana dan dengan cara apa.

– terinspirasi dari sebuah forum ilmu

Advertisements
This entry was posted in Corat-Coret Kehidupan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s