Masih Beranikah Kita Bermimpi?

Ikal, Arai, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Trapani dan Harun adalah beberapa nama yang boleh jadi kita kenal betul. Ya, mereka adalah nama tokoh yang dikisahkan dalam Tetralogi ‘Laskar Pelangi’. Sebuah novel yang isinya mengingatkan kita akan masa-masa indah bermain dan bermain, masa penuh imajinasi tanpa batas, saat kita masih kecil. Novel pertama karangan Andrea Hirata ini mengetuk diri kita akan keberadaan kunci untuk menaklukkan rintangan, menaklukkan apapun yang menghadang, kunci untuk menaklukkan dunia : Mimpi. Dalam kisah penutup, Ikal dan Arai pun akhirnya bisa menggapai mimpinya menjejakkan kaki di altar pengetahuan Sorborne.

Kita pun mengenal Alif, Raja, Said, Dulmajid, Atang serta Baso dalam novel ‘Negeri 5 Menara’. Hidup mereka yang penuh lika-liku, ketatnya peraturan, Class Six Show, ujian-ujian berat di PM, akhirnya dapat mereka lalui dengan 3 hal : kekuatan mimpi, kesungguhan dan kesabaran. Dalam novel penerusnya, Alif Fikri pun berhasil meneruskan kisah indahnya, berhasil menjadi kontributor berbagai majalah dan surat kabar, berhasil mendapatkan program pertukaran pelajar di Quebec, Kanada.

Masih dalam cerita yang sama, diceritakan juga Lintang, seorang anak nelayan miskin, teman sebangku Ikal yang luar biasa jenius! Ia adalah seorang anak yang selalu aktif dalam kelas, impiannya pun tinggi! menjadi ahli matematika. Kisah Lintang ternyata tak seperti kisah Ikal, sebuah hal pahit harus ia pilih, ia harus rela meninggalkan cita-citanya dan harus menggantikan peran ayahnya (yang meninggal) untuk mencari nafkah bagi 14 anggota keluarganya.

Tokoh Baso dalam ‘Negeri 5 Menara’ pun tak jauh berbeda dengan Lintang. Baso adalah anak asli Gowa, ia adalah yatim piatu, ibunya meninggal saat melahirkannya, ayahnya meninggal saat ia masih berumur empat tahun. Sejak itu, ia pun diasuh oleh neneknya, biaya sekolahnya di PM adalah atas bantuan seorang nelayan yang mulai hatinya, pak Latimbang. Semua itu dikarenakan, biaya sekolah tak bisa ditanggung oleh nenek Baso. Neneknya hanya memiliki warung nasi kecil di halaman rumah, yang hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Tak lama sebelum novel berakhir, Baso dikisahkan harus rela menelan pil pahit, ia akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah dan kembali ke kampung halaman karena neneknya sakit keras.

Kisah Lintang dan Baso, boleh jadi menjadi ‘pelengkap’ atau ‘bumbu’ kisah tokoh utama dari masing-masing novel. Namun bagi saya, kisah mereka justru merepresentasikan banyak kisah anak di negeri ini. Banyak anak dinegeri ini yang akhirnya harus ‘merelakan’ pedidikan mereka, ataupun impian besar (dalam kata lain ‘menurunkan ketinggian’ impian) mereka karena mereka harus memilih hal lain yang ‘lebih prioritas’. Priotitas ini tak bisa digeser ataupun disamaratakan dengan hal lain, Padahal bagi anak seusianya di negeri yang sama, mereka tak perlu khawatir untuk bisa terus mengenyam pendidikan (dalam proses hidup meraih impian terbesarnya).

Tahukan sahabat, tingginya anak usia sekolah yang tidak bersekolah dan angka putus sekolah di tanah air membuat tingkat Indonesia turun dalam indeks pembangunan pendidikan untuk semua (education for all) dari badan dunia yang mengurusi pendidikan, UNESCO. Tahun 2011 sebanyak 527.850 anak atau 1,7% dari 31,5 juta anak sekolah dasar putus sekolah. Kondisi demikian membuat peringkat Indonesia turun ke posisi 69 dari 127 negara. Padahal di tahun sebelumnya, peringkat Indonesia ada pada posisi 65. Data yang diolah Lembaga Demografi UI, menunjukkan di sejumlah daerah, jumlah anak usia sekolah yang tidak bersekolah serta angka putus sekolah tercatat masih sangat tinggi. Ditengah impian pemimpin negeri yang begitu besar, tunas bangsa negeri ini tak begitu banyak mendapat perhatian.

Apa yang ada dalam benak sahabat?

Apapun itu, Ingatlah.. Masa depan Indonesia akan buruk hanya untuk orang-orang yang pesimis! *tentunya kita tidak termasuk kedalamnya*

Silakan sahabat terus mengeluh dan memaki keadaan ataupun diri sendiri yang belum melakukan apapun, lakukan itu setiap detik, setiap hari, pekan, bulan atau bahkan sepanjang tahun. Rasakan betul perubahan apa yang telah kau perbuat selama waktu berjalan.. tidak ada!

Pada akhirnya kita akan menyadari ternyata banyak orang ‘diluar’ sana yang justru terus bergerak, tak kenal lelah, melakukan sebuah hal kecil atau bahkan besar tanpa mengenal waktu untuk sebuah perubahan besar. Pahlawan di jalan sunyi, itulah mereka, yang berjuang menunaikan hak ummat, hak Bangsa ini atas dirinya, membantu mereka yang pikirannya ‘terpenjara’ untuk merangkai kembali impian dan berjuang bersama untuk meraihnya. Mereka berjuang dengan segenap jiwa, harta dan pemikiran, tanpa mengharapkan sorakan meriah dari khalayak.

“Khairunnas anfa’uhum linnas”, “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak mamfaatnya bagi orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mimpi, ya itulah sebuah kata yang selalu ada dalam diri kita, yang terus kita rangkai, yang terus kita perbaharui seiring waktu berjalan.

Pertanyaannya saat ini adalah,

Masih beranikah kita bermimpi? ditengah besarnya risiko yang mungkin terjadi dalam perjalanan, bukan tidak mungkin kita pun melalui kisah yang sama denan Baso dan Lintang.

Masih beranikah kita bermimpi? bermimpi besar hanya untuk diri sendiri?

Masih beranikah kita bermimpi? tanpa memperhatikan sahabat-sahabat kita yang juga punya impian besar namun terkendala banyak hal yang tak kita dapatkan?

Masih beranikah kita bermimpii, mengejarnya hingga dapat dan di akhir kisah hanya satu orang yang diceritakan. Sungguh kesendirian itu tidaklah lebih indah dari kebersamaan.

Ditengah keadaan bangsa yang seperti ini, Masih beranikah kita bermimpi (sendiri) ?

Para Pemimpi selalu memiliki risiko besar dalam hidup mereka. untuk menggapai apa yang mereka inginkan, jalan berliku kan selalu hadir dihadapan. Tak jarang ada banyak Pemimpi yang tak berhasil meraih ‘bintang terang’ mereka dengan tangannya sendiri, namun justru penerus perjuangan mereka lah yang berhasil mewujudkannya, seperti layaknya Tan Malaka yang ‘hilang’ sebelum negerinya benar-benar merdeka, seperti Cut Nyak Dien, Jenderal Sudirman, seperti Che Guevara yang mati ditembak dalam perjuangan gerilya di Hutan Bolivia, dan masih banyak tokoh lainnya.

Ditengah risiko yang begitu besar, Masih beranikah kita bermimpi (sendiri) ?

Sebuah corat-coret yang mungkin memiliki makna
Bandung, 27 Januari 2012

 

 

 

Advertisements
This entry was posted in Corat-Coret Kehidupan and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Masih Beranikah Kita Bermimpi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s