Himmah, Impian dan Kesedihan

Dalam Al-Qur’an dikisahkan, sebuah cerita tentang burung Hud-hud, burung kecil yang namanya tersohor dan sudah kita dengar namanya sejak kita masih bocah dulu. Dikisahkan burung Hud-hud -burung kecil yang tidak mampu terbang jauh- ini telah melakukan sebuah perjalanan yang sangat jauh, dari Palestina (Negeri Sulaiman A.S) ke negeri Saba’ di Yaman (Negeri Ratu Bilqis).

Ia melalui hamparan padang pasir yang sangat luas, yang tidak mungkin sesuatu pun berani melampauinya kecuali ashhabul himam al’aaliyah (pemilik himmah tinggi). Jangankan seekor burung Hud-hud, manusia super saja sudah jiper dan berpikir ulang kembali untuk mengarunginya atau tidak. Perjalanan tersebut adalah sebuah perjalanan, dimana seseorang yang melewatinya akan melewati padang pasir yang sangat panas, sedikit air, sedikit makanan dan penuh dengan kekerasan alam lainnya. Dengan semangat membaja, burung kecil ini melakukan perjalanan sejauh itu dengan satu tujuan, yaitu memberi informasi kepada Nabi Sulaiman A.S tentang negeri-negeri lain, sehingga bisa jadi, ia akan menjadi penyebab berimannya penduduk di negeri tersebut.

Karena jaraknya sangat jauh dan perlu waktu lama untuk menempuhnya, burung Hud-hud itu tidak menghadiri majelis Nabi Sulaiman A.S. dalam waktu yang cukup lama, sehinggan menjadi tanda tanya bagi Nabi Sulaiman A.S.

Singkat cerita, akhirnya burung yang keberadaanya ditanyakan oleh Nabiullah tersebut muncul dan menyampaikan informasi tersebut kepadanya. perjuangannya belum berhenti sampai disitu, untuk membuktikan kebenaran informasinya, sang burung diminta terbang kembali ke negeri itu sekali lagi. Apa yang terjadi kemudian? Penduduk negeri Saba’ tersebut akhirnya tunduk kepada Allah SWT dan meninggalkan kemusyrikannya (pengen kisah lengkapnya? silakan lihat QS. An-Naml 16-44).

Himmah, sebuah kata yang tidak begitu familiar ditelinga kita. jika dibandingkan dengan ‘izzah’ ‘ukhuwah’ ‘ghirah’ dan kata-kata lainnya, kata ini boleh jadi sangat jarang atau bahkan tak pernah terucap dari lisan kita. Himmah, secara bahasa biasa diartikan sebagai cita-cita. jika kita selami maknanya secara mendalam, ia dapat kita artikan sebagai sesuatu yang senantiasa hangat dan ada dalam pikiran kita. Pagi hingga malam hari, ia selalu ada dalam pikiran, bisa dikatakan menyatu dengan jiwa. Kemanapun seseorang pergi, ia akan terus dibawa dalam setiap gerak dan langkahnya.

Himmah juga memiliki keterikatan dengan kata hamm yang bentuk jamaknya adalah humum yang secara mudah biasa diterjemahkan dengan kesedihan. Artinya, jika seseorang mempunya himmah terhadap sesuatu, ia akan merasa sedih dan tidak bahagia jika himmah-nya tidak terpenuhi atau tercapai. Sebaliknya, jika himmah-nya berhasil terwujud, maka kebahagiaan akan mengiringinya.

Jika dakwah yang kita kerjakan selama ini kita artikan sebagai sebuah usaha untuk mengajak orang-orang disekeliling kita, orang-orang yang berada dalam lingkungan kita, yang terdekat dengan kita kepada jalan Allah SWT. Maka himmah bisa kita artikan sebagai kesedihan seorang pejuang dakwah manakala dirinya belum berhasil membawa seorang manusia ke sebuah anak tangga kemanusiaan yang lebih tinggi, sebuah posisi yang lebih baik dan terang dari sebelumnya.

Maka demi Allah, Sungguh, Allah memberikan hidayah kepada satu orang karena kamu, itu lebih baik bagimu dari harta kekayaan yang paling berharga – Muttafaqun’alaih

Kawan, coba sejenak kita bertanya pada diri ini, adakah himmah dalam diri kita?
Apa yang jadi tujuan kita hidup selama ini?
Apakah tujuan tindakan dan perbuatan (dakwah) kita selama ini?
Apa yang menjadi cita-cita perjuangan kita sekarang ini?
Apakah terasa biasa saja, saat ada orang yang dekat dengan kita, dengan mudahnya melewatkan shalat?
Apakah terasa dingin hati ini, saat ada orang yang disekeliling kita, yang bahagia dengan maksiatnya?
Apakah hati kita sudah keras menghadapi lingkaran kehidupan kita yang tak sesuai dengan ketentuan-Nya?
Sedihkah diri kita saat mendapati diri kita seperti sekarang ini?

Kawan, perjalanan kita tak sesulit burung Hud-hud..
Orang-orang di sekitar kita hatinya tak sekeras umat Nabi Nuh..
Orang-orang yang kita hadapi tak se-ekstrim umat Nabi Muhammad..
Kita belum pernah diludahi saat kita berjalan..
Kita belum pernah dilempari kotoran saat kita sedang bergerak menuju satu tujuan..

Sadarlah! Sebagai muslim kita harus menyadari, bahwa kita adalah ujung tombak dien ini. Khaira ummatin ukhtijat linnas. Umat terbaik yang ada diantara manusia yang memiliki karakter ta’muruuna bil ma’ruf watanhauna ‘anil munkarhimmah itu tak boleh redup manakala belum ada seorang pun yang kita ajak kepada jalan Allah, belum ada satupun yang tergerak menuju posisi yang lebih baik. Kalaupun satu orang telah mendapat hidayah lewat jalan kita, apakah kita bisa yakin bahwa diri kita akan mendapat tempat yang layak di akhir nanti? sementara banyak orang diluar sana yang tak berhenti mengajak sampai akhir hayatnya.

Tutup telingamu dari dengungan cemoohan.
Kuatkan hatimu untuk jalan penuh tantangan.
Sedihlah karena banyak impianmu yang belum tercapai, bukan karena terlalu sulitnya perjuangan.
Kejarlah impianmu sampai dapat, inspirasi semesta dan bangun impian bersama.
Perbaiki dirimu dan ajaklah sekitar menuju jalan cahaya, jalan kebenaran.
Terus bergerak dan berkarya demi umat yang kita cintai ini.

Sebuah tulisan yang mungkin memiliki makna,
Menyandur buletin pemberian seorang kakak yang pertama kali membawa dan memantapkan saya berada di jalan ini

Bandung, 22 Agustus 2012

Advertisements
This entry was posted in Asupan Ruhani, Corat-Coret Kehidupan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s