Kisahnya buah kelapa..

Secara tak terduga mendengar taushiyah K.H Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dalam sebuah kesempatan yang juga tak terduga. Dalam salah satu bagian taushiyahnya, Aa Gym menceritakan tentang ujian manusia yang dianalogikan dengan sebuah kelapa.

Kelapa, diwaktu yang tepat, ia akan mendapatkan ujiannya yang pertama. Jatuh dari pohon, dan kita tahu sendiri, kelapa tidak jatuh dari tempat yang rendah. Ia jatuh dari tempat yang begitu tinggi dan mendarat dengan begitu keras. Setelah ia jatuh, akan ada yang datang menghampirinya, dan membacok batoknya hingga terbelah. Kemudian, batok tersebut akan dilepaskan dari cangkang bagian dalamnya, batok akan dijenggut kuat hingga benar-benar botak.

Belum cukup sampai disana, golok akan kembali menghampiri dengan keras, memecahkan cangkang bagian dalam, sehingga isi air kelapanya bisa dikuras habis. Daging buah kelapa pun akan diambil hingga bagian dalam cangkang bersih, dan untuk mengelupas seluruhnya, cangkang harus ditekan keras dengan alat yang juga keras. Selanjutnya cangkang akan diparut, perlu parutan yang tajam ditambah tenaga yang juga kuat untuk dapat memarutnya. Dari batok kelapa utuh, sekarang jadilah ia ampas kelapa, apakah cobaannya berhenti? tidak sepenuhnya berhenti sebelum ia diperas hingga tidak ada sari kelapa yang bisa diambil.

Begitu panjang dan kerasnya hidup sebuah kelapa ya…

Aa Gym kurang lebih berkata, jika ujian/cobaan hidup kita belum seperti ujiannya kelapa, pantang bagi kita untuk mengeluh. Manusia yang bisa melalui setiap ujian yang menghampirinya, seperti layaknya kelapa, dari yang kecil hingga yang terberat, adalah manusia terbaik 

Disisi lain, saya menyadari betul.. Jika kita mencermati betul, ternyata seberat apapun ujian yang dihadapi oleh sebuah kelapa. Setiap bagian yang diambil darinya akan punya manfaat bagi sekelilingnya.

Pertanyaannya, ditengah ujian hidup yang terus menerpa kita? adakah kita masih bisa memiliki manfaat untuk sekitar?

Ini hikmah dari sebuah kelapa 🙂

Posted in Asupan Ruhani | Leave a comment

#SGTrip5 : Ayam Penyet Ria & Smart Automobile Pte, Ltd

Sebelum kepulangan kami ke Indonesia, ada dua tempat yang kami kunjungi. Dua tempat ini menarik perhatian saya dikarenakan kedua tempat ini dimiliki oleh orang Indonesia. Ya,  keduanya adalah orang Indonesia (yang sudah tinggal lama di Singapura) yang membuka usaha di Singapura. Berikut adalah liputan kunjungan saya dan kawan-kawan FIM 10 ke Ayam Penyet Ria dan SMART Automobile Pte, Ltd. 😀

1. Ayam Penyet Ria
Auntie May, seorang wanita asal Jakarta yang sejak 30 tahun lalu menetap di Singapura, ikut membantu pengelolaan Restoran bercita rasa Indonesia di Singapura ‘Ayam Penyet Ria’. Restoran ini berdiri sejak 7 tahun yang lalu, sekitar tahun 2004, saat itu belum sudah banyak restoran yang menyediakan masakan Indonesia, namun cita rasanya berbeda dari aslinya. Salah satu alasan mengapa ‘Ayam Penyet Ria’ ini akhirnya dikembangkan di Singapura adalah, karena sang pemiliki ingin agar orang-orang di luar negeri dapat mengetahui seperti apa cita rasa asli Indonesia dan orang Indonesia yang berkunjung ke Singapura dapat menemukan masakan yang sangat dekat dengan lidah mereka.

285353_2174062241541_1998218_n

Diskusi Bersama Aunty May

Berawal dari sebuah cabang di Lucky Plaza saat awal berdirinya, saat ini ‘Ayam Penyet Ria’ telah memiliki 5 cabang di Singapura, yaitu di Lucky Plaza (2 cabang), Tampines Mall, Jurong Point dan Bedok Point. Auntie May menuturkan, untuk bisa menjaga orisinalitas rasa masakah, beberapa bahan baku utama ayam penyet, seperti kecap, tepung kobe, terasi masih didatangkan secara langsung dari Indonesia. 😀

Auntie May menuturkan bahwa Singapura adalah negara yang sangat mengedepankan kualitas produk. Produk yang dijual kepada masyatakat harus memenuhi standard Quality Control yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Untuk hal ini pemerintah Singapura sangat ketat, sebuah usaha yang ingin mendapatkan izin berdagang di Singapura harus rela mengikuti berbagai macam proses yang ditetapkan oleh pemerintah. Proses ini meliputi pengecekan kualitas bahan baku, pengolahan bahan baku hingga produk jadi dan bahkan bentuk serta layout dapur dan restoran. Continue reading

Posted in Corat-Coret Kehidupan, Forum Indonesia Muda | Tagged , , , | 1 Comment

Perjalanan Qur’an

Mengutip Sebuah Akun facebook yang dahulu pernah ‘menggemparkan’ hati ini     Perjalanan Qur’an :

Kami tiga pemuda yang berasal dari sebuah kampus dimana ilmu pengetahuan dan teknologi bersatu padu, mencoba memantapkan langkah untuk melihat dunia dengan cara yang kami yakini dapat menjadi inspirasi dan sumber inspirasi.

Kami bertiga adalah sahabat seperjuangan dalam rangka menegakkan Islam di muka bumi ini.

Kini, kami ingin mencoba menapaki salah satu tahapan penting dalam hidup kami sebagai seorang muslim, sebagai seorang pengembara, sebagai seorang inspirator dalam sebuah perjalanan panjang dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Sebuah perjalanan yang kami sebut dengan Perjalanan Qur’an.

Perjalanan ini adalah sebuah perjalanan darat dari negara asal kami, Indonesia, menuju Rumah Allah-Baitullah di Mekkah. Sebuah perjalanan yang kami rencanakan akan melewati berbagai negara;

Indonesia – singapura – malaysia – thailand – myanmar – bangladesh – nepal – india – pakistan – iran – irak – turki – suriah – jordania – saudi arabia – indonesia

Di berbagai negara ini kami akan mencoba mengenal Islam dan keindahannya, belajar mencintai Allah dengan segala ciptaanNya di masa lalu dan masa depan, dan mencoba merasakan keteladanan Rasul melalui ajarannya. Cara yang kami pilih dengan mendatangai situs Islam bersejarah dan belajar tentang kisah dibaliknya. Beribadah dan berkomunikasi dengan Allah di masjid masjid di setiap negara. Bersilaturahim dengan komunitas Islam di berbagai negara, mengenal mereka, cara mereka berislam dan berdakwah dan cara mereka mensyukuri hidup.

Ada Sekelompok pemuda, yang memiliki keinginan untuk bisa melalui sebuah perjalanan spiritual dan mengenal Islam lebih jauh dari perjalanan menembus batas teritori dan benua.

Terlepas jadi atau tidaknya perjalanan ketiga sahabat ini (ketiganya saya kenal betul). Entah mengapa, rasanya, ada sebuah panggilan dan kobaran semangat dari dalam diri ini. Untuk melakukan sebuah perjalanan, mengembara mencari dan mengumpulkan hikmah yang berserakan di bumi Allah ini.

Jadi teringat, dahulu kala, saat kelas 3 SMA, saya ingin sekali masuk jurusan Biologi ITB. Alasan utama saya ingin masuk ke jurusan tersebut adalah kegemaran saya menonton program di TV7 (seakarang ini Trans 7) bernama ‘Jejak Petualang’. Diri ini membandingkan program tersebut dengan program-program ‘National Geographic’, sama sekali tidak ada presenter yang mampu menjelaskan jenis hewan atau tumbuhan, bagaimana tempat hidupnya secara mendetail. Rasanya keren menjadi presenter pertama yang bisa menjelaskan secara detail hewan dan tumbuhan yang ada di Indonesia.

Yah.. impian untuk menjadi presenter program Jejak Petualang boleh jadi telah tertutup, tapi peluang masih begitu terbuka untuk program-program lainnya? Mungkinkah program ‘Perjalanan Qur’an’ ini bisa terwujud? Bisa saja 😀

Backpacking ke Makkah boleh jadi terkesan terlalu jauh dah memakan banyak waktu dan biaya. Tak ada salahnya ditapaki kawan!

Boleh lah, diri ini bermimpi, untuk menapaki, jalur untaian Hikmah, dari pendahulu-pendahulu, dari pejuang-pejuang Dien terdahulu. Dalam maupun Luar Negeri.

Jikalau memang Engkau mengizinkan. Jikalau umur ini masih ada. Izinkanlah Hamba-Mu ini menapaki luasnya bumi ciptaan-Mu.. Amiiiin..

Posted in Corat-Coret Kehidupan | Tagged | Leave a comment

Sarjana Manajemen Bisnis (S.M.B)

Puji serta syukur Alhamdulillah saya sampaikan kehadirat Allah SWT, atas segala karunia-Nya yang dilimpahkan kepada saya sehingga dapat menyelesaikan sebuah fase panjang penuh perjuangan bernama jenjang perkulihan s1 dengan skripsi sebagi penutup.

September 2007, kaki ini menjejak di sebuah komplek Telkom Learning Center, kampus STMB Telkom. Kampus yang terletak di utara Kota Bandung. Masih ingat betul dalam benak, ospek saat itu (OKMB) saya pernah hadir di sebuah hari dengan celana jeans gelap kebesaran, celana papah yang terpaksa dipakai, karena panitia ospek meminta peseta untuk mengenakan celana jeans gelap, dan saya ga punya yang warna gelap! saking takutnya sama panitia, akhirnya saya pakai celana itu dengan optimisme ga kena ‘semprot’ tatib. Hasilnya luar biasa, saya malah jadi bahan tertawaan, cekikikan kecil, dan lirikan mata kaget.. hahahaha.. 😀

Tak lama berselang, satu tahun mungkin. Setelah memasuki masa perkuliahan, diri ini gelisah, terpikir sebuah kalimat ‘Anak SMAN 5 Bandung ga semestinya ada disini.. ITB-UNPAD itulah tempat sebenarnya buat anak seperti saya.’. Atas dasar kegelisahan belum lolos SPMB, ditambah ketakutan diri ini tidak berkembang karena aktivitas kemahasiswaan di kampus tak seperti yang diharapkan, ditambah lagi keyakinan bahwa saya itu pintar dan pantas mendapatkan tempat yang lebih layak. Ikut lah saya di SNMPTN 2008. Bagaimana hasilnya? Lulus masuk ke Hubungan Internasional UNPAD. 1,5 tahun kuliah dobel dijalani, GILAnya! saya akhirnya tidak melanjutkan kuliah di UNPAD dan memilih kembali ke STMB Telkom yang saat itu sudah berganti nama menjadi IM Telkom. Pilihan tidak mainstream dan tergolong bodoh bagi banyak orang.

Memulai kembali di IM Telkom tidaklah mudah, karena sempat cuti tidak resmi selama satu semester. saya hanya bisa mengambil sks dalam jumlah sedikit. benar-benar tertinggal dari teman-teman seangkatan. Seringkali pada akhirnya harus duduk bersama dengan adik kelas, kesan yang saya rasakan: seperti anak angkata atas, yang gagal lulus di semester sebelumnya dan akhirnya mengulang! feeling yang terasa aneh, seperti naik roller coaster, sesek-sesek gimanaa gitu 😀

4 tahun, dieja empat tahun! itulah waktu yang ditempuh untuk menyelesaikan seluruh mata kuliah (termasuk magang di Jakarta selama 2 bulan) selain skripsi. Dan akhirnya, secara luar biasa setelah melalui proses panjang, total 8 bulan pengerjaan termasuk ganti judul 4 kali, sebuah buku bernama Skripsi (setiap daerah punya nama sebutannya masing-masing: skripsweet, skripshit, skripsi, si dia, doski, cinTA, dsb :D) akhirnya SELESAI! Alhamdulillah…

Setelah total 5 tahun perjuangan, Nilai A- (saya berharap di transkrip tanda minusnya kecil banget dan ga keliatan) menutup seluruh rentetan rantai nilai, yang alhamdulillah bukan rantai karbon :D. IPK 3.61 , tidak pernah mengulang sekalipun mata kuliah, dengan nilai terendah B- untuk mata kuliah manajemen mutu (mungkin saya dapet segitu karena emang ga pernah merhatiin dan selalu maen laptop di belakang. maafin saya pak..) dan tentunya diakhiri dengan predikat Wisudawan Berprestasi 2 (yang ngalahin saya temen sendirii…. gondok ga siiiih??!… :D) mengakhiri cerita perjalanan saya sebagai mahasiswa.

Dan akhirnya.. 3 hurup (dibacanya ‘f’ yaa… ) yaitu S.M.B bertambah di belakang nama Ibrahim Imaduddin Islam. 3 huruf yang jadi pertanda, sebuah fase hidup berhasil dilewati, dan jadi penanda, bahwa ada tanggungjawab baru yang hadir dan harus diemban kedepannya. Kalau kata Tizar (Presiden KM ITB, PL ITB 2007) tanggungjawab saya sebagai mahasiswa sudah beres, dan akhirnya sekarang saya punya tangungjawab sebagai sarjana (diem.. tarik nafas.. elus-elus dada.. *guling-guling* :D) Continue reading

Posted in Corat-Coret Kehidupan | Tagged | Leave a comment

Guru dan Murid

Di suatu malam, seorang guru bertanya kepada anak didiknya.

Siapa disini yang shalatnya selalu di masjid?
Siapa yang harinya tak pernah lepas dari tahajjud?
Siapa yang hari-harinya selalu dihiasi dengan dhuha?
Siapa disini yang setiap harinya selalu terdengar lantunan tilawah Ayat suci Al-Qur’an?
….

Murid pun menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan oleh sang guru. Ada yang shalatnya rajin ke masjid, namun tahajjudnya lepas. Ada yang baru bisa konsisten tilawah namun sulit untuk melakukan dhuha.

Guru pun bertanya kembali..

Shalat? berapa persen shalat kita yang khusyuk?
Berapa banyak tahajjud yang kita lakukan? apakah kita ikhlas?
infaq, zakat? berapa banyak harta yang kita keluarkan? bandingkan dengan harta yang kita keluarkan untuk kepentingan dunia.
Ibadah lain? berapa banyak dan seberapa berkualitas ibadah kita?

Murid pun terdiam. sadar bahwa amalan mereka yang begitu kecil ternyata juga belum tentu memiliki nilai yang baik.

Guru pun kembali berbicara:

Jika kita hanya mengandalkan amal ibadah kita agar diri kita masuk surga. maka yakin lah, bahwa amal kita tak akan pernah cukup.

Maka kita harus pastikan diri kita, memiliki amalan yang nilainya terus mengalir, walau diri kita sedang beristirahat, ataupun saat jiwa kita sudah diambil oleh Allah.

Saat kita mengajarkan kebaikan atau sebuah amalan kepada orang lain, dan orang tersebut mengerjakan serta mengajarkan kembali kebaikan itu. maka kita akan mendapatkan ‘transfer’ amalan dari setiap orang yang melaksanakan.

Jangan pernah merasa cukup atas amal yang sudah kita perbuat. teruslah mengajak dan mengajarkan kebaikan pada orang lain

Posted in Asupan Ruhani, Corat-Coret Kehidupan | Tagged | Leave a comment

Mudik

Mudik, kegiatan yang amat sangat lekat dengan keseharian masyarakat Indonesia saat Iedul Fitri tiba. tak ada negara selain negara kita yang ‘meramaikan’ Iedul Fitri dengan eksodus penduduk ke daerah asalnya secara serentak. Negara dengan penduduk mayoritas muslim seperti Mesir, Malaysia, Pakistan, Irak, Iran dan Arab Saudi merayakan Iedul Fitri tidak sampai seperti Indonesia. selepas shalat Ied, semua kembali seperti biasa. Berbeda dengan perayaan Iedul Adha yang amat semarak dan dijalani dengan penuh semangat. Beda memang, tapi ga perlu kita bahas dan perdebatkan.

Mudik, diri ini, jasad ini dan jiwa ini pun akan melaksanakannya di waktu yang tepat. Sesuai dengan yang tertulis dalam suratan takdir, malaikat yang ditugaskan Allah akan datang dan mencabut ruh kita dari jasad. Pertanyaannya, setelah dunia seluruhnya kembali pada ketiadaan. Saat kita nanti dikumpulkan di padang mahsyar dan akhirnya ditimbang. Apakah amalan kita akan cukup untuk membawa kita ke tempat mudik yang nyaman dan penuh dengan kenikmatan?

Saat diri kita masih sibuk dengan aktivitas tanpa makna dan tujuan. Apakah ada keyakinan dalam diri ini bahwa kita akan selamat di akhir nanti?

Saat diri kita sering lupa akan perintah dan larangan-Nya. Apakah ada optimisme dalam diri ini mendapat Ridho-Nya?

Walaupun saat ini kita bergerak bersama dengan orang-orang di sekitar kita. Ingatlah, di akhir nanti setiap orang akan dihitung sendiri-sendiri. Tak berarti jika orang-orang disekitar kita aktif dalam kebermanfaatan sedangkan kita hanya menontonakan menjadikan diri kita ikut baik dan terkena pahalanya.

Amanah atau pekerjaan duniawi yang tak mampu kita laksanakan, akan bisa digantikan oleh orang lain. Namun ada pula ibadah atau amanah yang tak dapat digantikan atau dikerjakan oleh orang lain untuk kita. Shalat, Tilawah Qur’an, Qiyamul Lail tak bisa kita titipkan pada orang untuk dikerjakan. Pastikan setiap aktivitas dalam kehidupan kita, senantiasa ada dalam koridor keimanan dan jauh dari kemaksiatan. Seminimalnya kita mengajak orang untuk melakukan perintah-Nya, karena dengan itu pahala aktivitas shalih yang dirinya kerjakan akan juga sampai pada kita. terlebih jika ia mengajarkannya kembali kepada orang lain.

‎’Iman akan naik seiring dengan ketakwaan. Dan turun seiring dengan kemaksiatan’.

Kita tak tahu kapan kita akan kembali ke kampung halaman. kita hanya tahu bahwa di akhir nanti ada dua tempat kembali, Surga atau Neraka. Tinggal kita memilih, akan mudik kemana dan dengan cara apa.

– terinspirasi dari sebuah forum ilmu

Posted in Corat-Coret Kehidupan | Tagged , | Leave a comment

Himmah, Impian dan Kesedihan

Dalam Al-Qur’an dikisahkan, sebuah cerita tentang burung Hud-hud, burung kecil yang namanya tersohor dan sudah kita dengar namanya sejak kita masih bocah dulu. Dikisahkan burung Hud-hud -burung kecil yang tidak mampu terbang jauh- ini telah melakukan sebuah perjalanan yang sangat jauh, dari Palestina (Negeri Sulaiman A.S) ke negeri Saba’ di Yaman (Negeri Ratu Bilqis).

Ia melalui hamparan padang pasir yang sangat luas, yang tidak mungkin sesuatu pun berani melampauinya kecuali ashhabul himam al’aaliyah (pemilik himmah tinggi). Jangankan seekor burung Hud-hud, manusia super saja sudah jiper dan berpikir ulang kembali untuk mengarunginya atau tidak. Perjalanan tersebut adalah sebuah perjalanan, dimana seseorang yang melewatinya akan melewati padang pasir yang sangat panas, sedikit air, sedikit makanan dan penuh dengan kekerasan alam lainnya. Dengan semangat membaja, burung kecil ini melakukan perjalanan sejauh itu dengan satu tujuan, yaitu memberi informasi kepada Nabi Sulaiman A.S tentang negeri-negeri lain, sehingga bisa jadi, ia akan menjadi penyebab berimannya penduduk di negeri tersebut.

Karena jaraknya sangat jauh dan perlu waktu lama untuk menempuhnya, burung Hud-hud itu tidak menghadiri majelis Nabi Sulaiman A.S. dalam waktu yang cukup lama, sehinggan menjadi tanda tanya bagi Nabi Sulaiman A.S.

Singkat cerita, akhirnya burung yang keberadaanya ditanyakan oleh Nabiullah tersebut muncul dan menyampaikan informasi tersebut kepadanya. perjuangannya belum berhenti sampai disitu, untuk membuktikan kebenaran informasinya, sang burung diminta terbang kembali ke negeri itu sekali lagi. Apa yang terjadi kemudian? Penduduk negeri Saba’ tersebut akhirnya tunduk kepada Allah SWT dan meninggalkan kemusyrikannya (pengen kisah lengkapnya? silakan lihat QS. An-Naml 16-44). Continue reading

Posted in Asupan Ruhani, Corat-Coret Kehidupan | Tagged , | Leave a comment